“Anak muda harus peka. Jangan tutup mata dengan keadaan di sekitar. Kalau sudah peka, ya harus punya solusi,” pesannya.

Selepas jam sekolah dan istirahat siang, sebuah rumah kontrakan di Desa Rana Mese bakal ramai dikunjungi anak-anak. Mereka menjemput senja dengan aneka kegiatan. Ada yang membaca buku, ada yang bermain bola, sebagian lainnya sibuk mengutak-atik laptop.

Ya, dengan memakai laptop tersebut, mereka menjelajah dunia luas di luar desa tempat tinggal mereka melalui jaringan internet. Itulah serangkaian kegiatan yang dilakukan anak-anak Desa Rana Mese, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, bersama Khamdan Muhaimin setiap hari.

Rana Mese adalah sebuah desa terpencil yang terletak di pelosok Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Butuh waktu empat jam lamanya bila berkendara motor dari Borong, ibukota Kabupaten Manggarai Timur, untuk sampai di sana. Menyusuri jalanan terjal dipenuhi bebatuan, kadang licin dan berlumpur kala hujan tiba. Belum ada akses listrik negara masuk ke desa itu sehingga jaringan internet pun tak stabil, hilang muncul.

Di desa inilah, Khamdan mengabdikan diri sebagai guru di SMPN 5 Sambi Rampas sejak 2015 melalui program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) ini bertujuan untuk mengatasi kekurangan tenaga guru di desa-desa terpencil serta menciptakan layanan pendidikan yang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Sebelumnya, Khamdan menjadi guru honorer di SMK Muhammadiyah Weleri, Kendal, dan SMKN 1 Mandiraja, Banjarnegara, di Jawa Tengah.

“Saya tinggal di desa ini sejak lolos seleksi SM3T. Listrik hanya ada di lokasi tertentu. Kegiatan belajar anak-anak saat di sekolah saja, sebab tiap sore mereka biasanya mencari kayu di hutan untuk dibakar,” tuturnya saat diwawancarai melalui telepon, Minggu (3/09/2023).

Merasa prihatin melihat kondisi anak-anak Desa Rana Mese, pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah ini berinisiatif mendirikan sebuah rumah belajar. Impiannya hanya satu, anak-anak Desa Rana Mese tidak boleh kalah bersaing dengan teman-temannya di kota-kota besar dalam hal pendidikan.

Ia lalu mendirikan Rumah Belajar Garis Inspirasi. Memanfaatkan ruang tamu rumah kontrakannya yang masih beralas tanah menjadi ruang belajar anak-anak. Buku-buku pribadinya ia jadikan sebagai bahan bacaan. Setiap bulan ia menyisihkan sedikit rupiah dari gajinya untuk membeli buku bacaan, bola, dan peralatan olahraga.

Anak-anak Rumah Belajar Garis Inspirasi (Foto: Dokpri Khamdan Muhaimin)

“Saya melihat anak-anak ini membutuhkan pembelajaran di luar sekolah. Nah, kebetulan saya kontrak rumah warga di sekitar rumah anak-anak, maka saya membuat rumah belajar seadanya,” kenang Khamdan.

Kehadiran Rumah Belajar Garis Inspirasi mampu menarik perhatian anak-anak Desa Rana Mese. Saban hari, rumah belajar ini selalu ramai dikunjungi. Ada yang datang mengerjakan tugas, membaca buku, belajar komputer atau sekadar berolahraga. Khamdan memang sengaja menyediakan bola dan peralatan olahraga supaya anak-anak bisa bermain sekaligus olah tubuh. Tetapi, sebelum bermain bola, mereka harus membaca buku terlebih dahulu.

Mengenal Teknologi Informasi

Dunia telah bertransformasi menjadi sebuah dusun global (global village) akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi. Manusia pun dapat saling terhubung dengan siapa, kapan dan di mana saja. Semua orang bisa mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Jarak dan waktu kini bukan lagi penghalang bagi mereka untuk bertukar kabar.

Sayangnya, situasi demikian tidak dialami oleh anak-anak di Desa Rana Mese. Lokasi yang cukup terisolir membuat akses jalan, listrik, dan jaringan internet kurang memadai di daerah ini. Ditambah lagi dengan fasilitas pendidikan yang sangat minim, semakin menambah ketertinggalan desa ini.

Merujuk data Badan Pusat Statistik NTT, persentase penduduk yang mengakses internet di wilayah Kabupaten Manggarai Timur pada 2017 adalah 6,06 persen. Angka itu tergolong kecil karena tidak semua area terjangkau jaringan internet. Khamdan termasuk beruntung. Di rumah kontrakannya ia bisa mengakses internet, walau terkadang sinyalnya tidak stabil.

Khamdan sedang mengajari cara mengoperasikan laptop di Rumah Belajar Garis Inpirasi (Foto: Dokpri Khamdan Muhaimin)

Di tengah segala keterbatasan itu, Khamdan berikhtiar, anak-anak Desa Rana Mese harus melek teknologi. Kampung boleh terisolir tapi wawasan harus mengglobal, demikian cita-citanya. Berbekal dua laptop milik Khamdan dan istrinya, ia perlahan memperkenalkan teknologi komputer dan internet kepada anak-anak.

“Di sekolah tidak ada komputer dan anak-anak tidak mempunyai ponsel. Yang punya hanya beberapa guru saja,” tuturnya.

Khamdan menceritakan, awalnya anak-anak diajari mengetik di file Word (Microsoft Word – red) terlebih dulu. Kalau sudah bisa mengetik, khususnya anak-anak SMA yang mau kuliah, mereka kemudian diajari mengakses internet.

“Biar nanti masuk kuliah mereka tidak gaptek maka saya ajari browsing mencari informasi di internet. Saya menggunakan mobile data milik pribadi, lalu saya koneksikan atau thetering ke laptop,” ucap pria berusia 36 tahun ini.

Kartona, 22, mantan anggota Rumah Belajar Garis Inspirasi yang kini sedang kuliah di salah satu kampus di Kota Kupang menuturkan hal serupa.

“Saya beruntung bisa belajar laptop dan mencari informasi di internet sewaktu di Rumah Belajar Garis Inspirasi. Kami belajar pakai laptopnya Pak Khamdan. Maka, ketika masuk kuliah, sudah bisa dan tidak gaptek,” tuturnya saat dihubungi melalui WhatsApp, Sabtu (9/9/2023).

Bagi Kartona dan teman-temannya kala itu, kehadiran Khamdan dan Rumah Belajar Garis Inspirasi adalah berkat tersendiri bagi anak-anak Desa Rana Mese. Banyak hal baru yang mereka peroleh di sana. Mulai dari belajar, membaca buku, mengoperasikan laptop hingga mencari informasi di internet.

“Semuanya gratis. Intinya, kami harus ada keinginan belajar untuk menjadi lebih baik,” tegas Kartona.

Ujian CBT Offline

Sebagai pendidik generasi bangsa yang ditempatkan di Daerah 3T, Khamdan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Tidak hanya untuk komunitas rumah belajar yang ia dirikan tetapi juga sekolah tempatnya mengabdi, SMPN 5 Sambi Rampas.

Bermodalkan tablet Android bantuan dari pemerintah sebanyak 29 buah, Khamdan membuat gebrakan baru di sekolah. Pada 2017, untuk pertama kalinya SMPN 5 Sambi Rampas mengadakan tes berbasis CBT (Computer Based Test) dengan sistem offline. CBT sendiri merupakan tes atau ujian yang dikerjakan menggunakan komputer. Sistem ini memungkinkan pelaksanaan ujian jauh lebih praktis, hemat dan minim kecurangan.

Khamdan meberikan arahan kepada siswa-siswi SMPN 5 Sambi Rampas terkait penggunaan tablet dalam ujian CBT Offline (Foto: Dokpri Khamdan Muhaimin)

Pengoperasian sistem CBT offline ini dilakukan dengan cara menginstal program aplikasi pada server LAN (Local Area Network). Di mana jaringan komputer dapat digunakan di dalam satu wilayah lokal saja. Server inilah yang kemudian akan terhubung ke setiap gadget yang dipegang peserta ujian, tanpa harus langsung terhubung ke server pusat.

Mereka menggunakan tablet dan router pemberian dari pemerintah. Siswa dapat mengerjakan soal di tablet tanpa harus memiliki kuota data internet maupun memakai kartu seluler.

“Jadi kosongan tabletnya, hanya memanfaatkan aplikasi CBT dan komputer. Waktu itu, sekolah kami yang pertama melaksanakan CBT offline. Itu teknologi yang saya terapkan di sana,” jelas Khamdan.

Setelah sukses menggelar ujian berbasis CBT di sekolahnya, Khamdan lalu diundang ke beberapa sekolah tetangga untuk mengajarkan hal serupa. Upaya ini dilakukan Khamdan semata karena beliau ingin agar anak-anak di daerah 3T dapat merasakan yang sama dengan anak-anak di kota pada umumnya. Minimnya fasilitas bukanlah penghalang. Tekad dan mimpi besar adalah kunci utamanya.

Robertus Sandrin, guru SMPN 5 Sambi Rampas, ketika diwawancarai pada Senin (26/9/2023) menuturkan hal senada. CBT offline merupakan pengalaman pertama SMPN 5 Sambi Rampas mengadakan ujian dengan cara yang tidak seperti biasanya.

“Iya benar, kami pernah membuat ujian CBT offline waktu Pak Khamdan masih di sini. Program itu berhasil walaupun kami tinggal di kampung yang sinyal internetnya susah,” ucapnya.

Khamdan adalah sosok penting dibalik suksesnya pelaksanaan ujian berbasis komputer tersebut. Para siswa mengenal internet dan mengoperasikan laptop berkat ajaran dia pula. Akhirnya, para guru ikut termotivasi belajar seperti anak-anak saat di Rumah Belajar Garis Inspirasi.

Semangat Berkolaborasi dan Berjejaring

Robertus mengakui bahwa dirinya belajar banyak dari sosok Khamdan. Ia akhirnya termotivasi dan ikut mendirikan rumah belajar di kampungnya, Rumah Baca Lejong De Anak Loe. Bersama Khamdan, mereka menginisiasi pendirian Taman Baca Liur dan Blooming Club di Kampung Wangkar.

Untuk melengkapi koleksi bahan bacaan di keempat rumah belajar ini, Khamdan membangun semangat kolaborasi dan berjejaring dengan para pemerhati pendidikan. Melalui media sosialnya ia sangat intens membagikan potret kegiatan anak-anak di rumah belajar kepada masyarakat luas. Inisiatif ini tak hanya menggerakkan hati banyak orang untuk membantu, tetapi juga membuka pintu kolaborasi yang menguntungkan.

Ank-anak Rumah Belajar Garis Inspirasi menerima kiriman buku dari para pemerhati pendidikan (Foto: Dokpri Khamdan Muhaimin)

Tercatat ada Universitas PGRI Semarang yang mengirimkan buku dan peralatan tulis. Ada juga bantuan buku dari Najwa Shihab. Kemudian, Najeela Shihab memberikan flashdisk berisikan video-video pembelajaran. Oleh Khamdan, flashdisk ini lalu dibagikan ke sekolah-sekolah lain. Tidak hanya itu, teman-temannya di Bandung turut serta mengirimkan seragam sekolah dan buku-buku bacaan dengan memanfaatkan program gratis ongkir dari PT Pos Indonesia.

Bagi Khamdan, kolaborasi adalah kunci untuk mewujudkan mimpi. Untuk semua hal baik yang dilakukan, ia percaya bahwa semesta akan selalu mendukung. Menghadirkan tangan-tangan kasih yang siap membantu tanpa pamrih. Memberi tanpa peduli kalkulasi untung rugi. Semangat yang sama ia terapkan di Desa Rana Mese.

Untuk mewujudkan mimpinya, Khamdan berkolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat. “Saya berkolaborasi dengan masyarakat. Dukungan datang dari kepala desa, ketua RT dan warga karena anak-anak mereka belajar gratis di sini,” ungkapnya.

Berdampak Untuk Masyarakat

Kehadiran Khamdan di Desa Rana Mese tidak hanya memberikan dampak positif untuk sekolah dan anak-anak di rumah belajar Garis Inspirasi. Lebih dari itu, ia juga menunjukkan kepedulian untuk masyarakat sekitar. Hatinya tergerak melihat warga yang kesulitan mendapatkan air bersih di wilayah Rana Mese.

“Memang ada mata air di Rana Mese, tetapi karena debitnya kecil jadi tidak bisa naik sampai ke kampung. Selain itu, tidak ada penampung air sehingga kalau mau mandi harus antri,” katanya.

Lagi-lagi, Khamdan hadir memberi solusi. Berbekal rasa peduli pada warga, Khamdan akhirnya menggalang dana lewat teman-temannya di Bandung. Alhasil, terkumpul sejumlah uang yang kemudian digunakan untuk berbelanja bahan bangunan. Bersama warga setempat, Khamdan membangun bak penampung di dekat mata air dan satunya lagi di dekat kampung.

Warga Desa Rana Mese mengambil air di Bak Penampung (Foto: Dokpri Khamdan Muhaimin)

Mereka juga membeli selang panjang untuk menarik air ke arah kampung. Cara ini membuat warga bisa menikmati air tanpa harus pergi ke mata air. Di kampung itu juga dibuatkan bak air berukuran besar sehingga airnya mengalir ke sana. Warga tinggal memutar kran di kampung, air sudah bisa keluar.

Robert, warga Kampung Liwur, saat diwawancarai membenarkan kisah ini. “Kami dulu kesusahan memperoleh air bersih. Untung ada Pak Khamdan yang membangun bak tampung,” ujarnya.

Kampung Liwur sendiri merupakan lokasi kedua pembangunan bak penampung air setelah Rana Mese. Kini, warga Desa Rana Mese tidak lagi mengalami kesulitan air bersih. Kiprah Khamdan selama bertugas di sana sungguh dirasakan dampaknya oleh masyarakat setempat.

Menurut Khamdan, generasi muda harus memiliki kepekaaan dengan keadaan di sekitar dan mampu memberikan solusi. Untuk para generasi muda, Khamdan berpesan agar mempunyai kegelisahan ketika melihat kondsi di sekitar yang kurang baik.

“Anak muda harus peka. Jangan tutup mata dengan keadaan di sekitar. Kalau sudah peka, ya harus punya solusi,” pesannya.

Khamdan menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mendorong perubahan positif di masyarakat. Pendidikan menjadi pondasi utama, namun tidak hanya berupa pengetahuan akademik. Khamdan mengajak pemuda untuk tetap menjaga karakter baik dan melibatkan diri dalam permasalahan yang ada di sekitar mereka.

Melalui Garis Inspirasi, Khamdan telah membuktikan bahwa cinta dan semangat untuk pendidikan dapat mengatasi berbagai hambatan. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa upaya kecil dan tekad tulus dapat membawa perubahan besar. Semangatnya yang tak kenal lelah dan tekad untuk berbagi telah memberikan inspirasi yang tak ternilai kepada masyarakat di Desa Rana Mese dan seluruh Indonesia.

Berkat usaha tak kenal lelahnya. Khamdan terpilih menjadi salah satu guru SMP inovatif tingkat nasional dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek RI, pada 2020. Kampung boleh terisolir tapi wawasan harus tetap mengglobal. Terima kasih Khamdan Muhaimin. (Sae*)

#SemangatUntukHariIniDanMasaDepanIndonesia #KitaSATUIndonesia

Bagikan:

Baldussae

Ghost writer. Blogger. Jurnalis Lepas Anak kampung yang ingin ingin hidup abadi di kolong langit. Lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur. Nioromu.com ini merupakan kebun virtual yang digarap setiap hari untuk menyambung hidup di tanah rantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *