Sebagai anak kampung dari pelosok Ende, Nusa Tenggara Timur, saya dan teman-teman sebayaku hafal betul berapa jumlah kendaraan bermotor di kampungku. Bahkan ketika mendengar bunyi motor yang melintas di kampung, kami bisa mengidentifikasi siapa pemiliknya.

Minimnya kendaraan bermotor di kampung, membuat kami punya kegemaran yang terbilang aneh. Ya, mencium asap knalpot. Aromanya tergolong mewah bagi kami anak kampung kala itu. Ketika menyaksikan di layar kaca, antrian kendaraan yang terjebak macet di kota-kota besar, kami bahkan ingin menjadi bagian dari antrian itu.

Kenyataan demikian berbanding terbalik ketika saya memilih merantau ke Surabaya. Ingatan tentang cerita masa kecil menjadi sirna seketika. Musabab buruknya kualitas udara akibat buangan gas emisi kendaraan bermotor yang mengancam kelangsungan hidup di kota ini.

Melalui tulisan ini saya ingin melihat lebih jauh potret polusi udara di Surabaya, khususnya yang diakibatkan dari sektor transportasi. Sejatinya, tulisan ini lahir dari pembacaan penulis terhadap hasil diskusi publik Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang dilaksanakan secara daring dan disiarkan oleh Radio KBR pada kamis, 23 November 2023.

Diskusi bertema “Sinergitas sektor transportasi dan sektor energi untuk mewujudkan kualitas udara bersih di kota Semarang, Surabaya, Jogjakarta, Bali, Medan, dan Makasar” ini bertujuan untuk memberikan dukungan pada isu nett zero emission pada 2060.

Potret Polusi Udara di Kota Surabaya

Setahun sudah saya mengadu nasib di kota ini. Langit kota yang jarang cerah, suara bising kendaraan, dan macet di jalanan adalah pemandangan yang lazim ditemui di kota ini. Polusi udara sudah  menjadi santapan harian. Penyumbang utama polusi udara berasal dari sektor industri dan sektor transportasi.  

Benar kata Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI  bahwa sektor transportasi berkontribusi terhadap buangan gas emisi dan polusi udara. Dimana masifnya penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat setiap tahunnya.

“Memang secara kasat mata, sektor transportasi paling dominan berkontribusi terhadap emisi gas buangan dan polusi yang dihasilkan, khususnya karena masih tingginya penggunaaan kendaraan pribadi. Dan ini terjadi di seluruh kota besar di Indonesia”, ujar Tulus.

Data Korlantas Polri menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Jawa Timur mencapai 25.128.669 unit. Sementara di wilayah Kota Surabaya sendiri menurut data Badan Pusat Statistik, terdapat 1.855.253 unit kendaraan bermotor di tahun 2021. Jumlah ini dipastikan terus bertambah setiap tahunnya. Diprediksi bahwa dengan rata-rata pertumbuhan kendaraan 6,4% pertahunnya,  jumlah kendaraan bermotor di tahun 2030 akan mencapai 5.415.704 unit.

Langit Kota Surabaya nampak mendung akibat buangan gas emisi kendaraan dan asap pabrik. Foto: Dokpri penulis.

Bisa dibayangkan betapa buruknya kualitas udara di kota ini akibat buangan gas emisi kendaraan bermotor. Belum lagi ditambah dengan masifnya penggunaan bahan bakar yang kotor dan tidak ramah lingkungan. Sudah bukan cerita baru kalau tangki kendaraan masyarakat pada umumnya lebih familiar dengan Pertalite dibanding Pertamax Turbo.

Ahmad Safrudin, Ketua Komite Penghapusaan Bahan Bakar Bertimbal (KPBB) dalam kesempatan ini menyoroti persoalan tersebut. Menurut Ahmad, masyarakat lebih sensitif terhadap harga dibandingkan kualitas. Padahal kelayakan emisi pada kendaraan ini sangat penting.

“Kendaraan selain harus lulus uji emisi, juga harus didukung dengan kualitas bahan bakar yang kompatibel dengan jenis kendaraannya.  Ini penting baik demi lingkungan dan manfaat bagi mesin kendaraannya”, jelas Ahmad.

Sebagai pengguna sepeda motor, saya hafal betul kalau antrian kendaraan di Pom bensin lebih panjang di jalur BBM bersubsidi. Alasannya sederhana, selagi ada yang murah dan ramah di kantong kenapa pilih BBM yang mahal.

Sejatinya, pola pikir yang demikian jelas keliru. Penggunaan bahan bakar dengan kualitas baik dan minimal berstandar euro 2 berdampak positif terhadap mesin kendaraan, energi dan jarak tempuh yang dihasilkan serta lingkungan alam. Menurut Ahmad, idealnya memang harus berstandar euro 4 sebagaimana yang diterapkan di negara-negara lain.

Baca juga: Sadar Lalu Lintas, Kunci Keselamatan Saat Berkendara

Sayangnya, akses masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar berkualitas tersebut tergolong mahal. Kenyataan demikian turut diperparah oleh kebijakan pemerintah yang salah kaprah. Mestinya subsidi BBM sebesar Rp 67 triliun untuk jenis Pertalite dan Solar, bisa dimigrasikan pada BBM yang lebih ramah lingkungan.

Sulit dibayangkan polusi udara di Surabaya akan cepat teratasi jika sebagian besar kendaraan bermotor yang ada di kota ini masih menggunakan bahan bakar “kotor” dan tidak ramah lingkungan. Polusi udara tetap akan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup di kota ini. Situs www.iqair.com melaporkan bahwa polusi udara telah menyebabkan kematian 2.700 kasus kematian di kota surabaya para tahun 2023.

Bukan hanya itu, asap pabrik juga menjadi sorotan utama. Terkadang, langit Surabaya seakan diselimuti oleh kabut tebal akibat emisi industri. Hal ini memicu berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan orang dewasa yang rentan.

Sinergitas Untuk Wujudkan Udara Bersih di Kota Surabaya

Dalam upaya mewujudkan kualitas udara bersih di Surabaya, sinergitas antar sektor menjadi kunci. Pemerintah kota perlu mengambil langkah-langkah yang nyata dan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan ini, khususnya di sektor transportasi. Sebagai pengambil kebijakan di tingkat daerah, Pemerintah Surabaya dapat memacu penggunaan transportasi publik yang ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, perlu juga dilakukan pengoptimalan trayek, peningkatan kualitas layanan, dan investasi dalam armada yang bersih menjadi langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Dengan memberikan insentif kepada masyarakat untuk beralih ke transportasi publik, niscaya dapat mengurangi beban emisi kendaraan pribadi.

Edukasi masyarakat mengenai pentingnya udara bersih juga perlu ditingkatkan. Program edukasi dan kampanye kesadaran lingkungan dapat membantu mengubah perilaku masyarakat dalam penggunaan kendaraan dan dalam mendukung upaya pemerintah.

Masyarakat pengguna kendaraan pribadi di Kota Surabaya. Foto: Dokpri Penulis

Di sisi lain, langkah yang perlu dilakukan adalah pemantauan kualitas udara yang lebih intensif perlu diimplementasikan. Sistem pemantauan yang canggih akan membantu pemerintah dalam merespon cepat terhadap kondisi udara yang buruk.

Surabaya memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang lebih bersih dan sehat. Dengan sinergitas antara sektor transportasi dan energi, serta keterlibatan aktif masyarakat, kita dapat mewujudkan perubahan positif menuju udara yang lebih bersih dan lingkungan yang lebih sehat di Kota Pahlawan ini. Sinergi, kesadaran, dan tindakan bersama adalah kunci menuju Surabaya yang lebih baik.

Referensi

https://bappedalitbang.surabaya.go.id/images/File%20Upload/Pengembangan%20Transportasi%20Surabaya.pdf

http://rc.korlantas.polri.go.id:8900/eri2017/laprekappolda.php

https://www.iqair.com/id/indonesia/east-java/surabaya

Bagikan:

Baldussae

Ghost writer. Blogger. Jurnalis Lepas Anak kampung yang ingin ingin hidup abadi di kolong langit. Lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur. Nioromu.com ini merupakan kebun virtual yang digarap setiap hari untuk menyambung hidup di tanah rantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Kendaraan/transportasi yang memadai memang sangat kita butuhkan, namun bila mengingat kontribusinya terhadap polusi udara, cukup bikin ngeri juga ya.. Memang sudah saatnya berbagai pihak bersinergi untuk mewujudkan alat transportasi sesuai kebutuhan namun tetap ramah lingkungan.

    Terima kasih sharing nya ya, makin membuka wawasan utk kehidupan yg lebih berkualitas

  • Sangat positif melihat kesadaran akan pentingnya sinergitas antar sektor dalam menjaga kualitas udara di Surabaya. Langkah-langkah yang diusulkan oleh Pemerintah Surabaya, terutama dalam mendorong penggunaan transportasi publik yang ramah lingkungan, pengoptimalan trayek, peningkatan kualitas layanan, dan investasi dalam armada bersih, merupakan langkah konkret yang dapat memberikan dampak positif.

    Memberikan insentif kepada masyarakat untuk beralih ke transportasi publik juga merupakan strategi cerdas untuk mengurangi emisi kendaraan pribadi. Edukasi masyarakat sangat penting, dan program-program edukasi serta kampanye kesadaran lingkungan dapat menjadi alat efektif dalam mengubah perilaku masyarakat. Semua langkah ini, jika diimplementasikan dengan konsisten, dapat menjadi fondasi yang kuat untuk mewujudkan udara bersih dan kesehatan lingkungan di Surabaya.

  • Ancaman polusi udahra di kota besar seperti Surabaya memang mengkhawatirkan ya. Apalagi jika banyak pabrik-pabrik di sana. Belum lagi transportasinya. Pada akhirnya tinggal di desa menjadi pilihan yang tidak begitu buruk. Terutama untuk kualitas udaranya.

  • aku juga sama kak merantau di surabaya sudah satu tahun pula. Jujur polusinya bikin aku lemas, kemaren kan sempat di kediri, jadi jomplang banget kan kondisi udara bersihnya

  • Semoga bukan hanya Surabaya, di daerah lain pun polusi bisa diurai. Transportasi umum bakal bantu banget, tapi emang balik ke orangnya sih. Kaya Jepara tuh, motornya buanyak. Yang naik kendaraan umum jarang. PR banget deh

  • Seandainya semua kompak, mungkin harapan itu akan tercapai. Ya meski seorang melakukan hal kecil, tapi kalau terus dilakukan dan serentak, bukankah akan menjadi hal besar?
    Seorang memilih naik transportasi umum, jika semua masyarakat kompak, hasilnya pasti akan beda dengan hanya seorang saja yg memilih transportasi umum itu

  • Indeks pengukur kualitas kota Surabaya sebenarnya menyatakan kondisi udara masih dalam kategori aman, secara umum. Namun polusi udara dari kendaraan bermotor itu memang kudu jadi perhatian. Semoga bisa jadi konsern pemkot. Dalam jangka panjang, dengan pertumbuhan jumlah yang terus merangkak naik, bisa jadi ancaman buat kondisi kesehatan dan kualitas udara.

  • Bukan hanya surabaya, banyak kota-kota besar di Indonesia merasakan hal yang sama. Semoga ke depan langkah pemerintah untuk memberikan pelayanan transportasi publik lebih baik lagi ya. Agar berkurang pemakaian transportasi pribadi

  • Sinergitas antara pemerintah, swasta juga masyarakat memang penting bagi tercapainya kota Surabaya bebas polusi. Apalagi skg motor listrik sudah mulai marak, bisa juga dengan adalah mengatur persentase kendaraan bermotor yg menggunakan BBM di jalan dan mengaktifkan/perbaikan kembali sektor transportasi umum. ❤️

  • Benar sih, Kak. Sinergitas memang diperlukan. Dari pemerintah menyediakan infrastruktur dan layanan transportasi umum yang layak. Masyarakat disiplin pakai angkutan umum. Itu contohnya.

  • Polusi udara bener bener meresahkan. Dan ironisnya yang bikin polusi udara semakin buruk ya kita sendiri. Salah satu contohnya ketika kita menggunakan kendaraan pribadi yang notabene mengeluarkan bahan bakar yang menyebabkan polusi. Cukup rumit sebenarnya. Tapi kalau kita mau bareng-bareng, insyaallah ada jalan keluarnya

  • Wah kota Surabaya juga kurang bagus ya kualitas udaranya dengan banyaknya kepedulian dan langkah nyata untuk penanganan kualitas udara smoga kedepannya bisa terus diatasi dan bisa baik kembali kualitas udaranya

  • Surabaya sudah seperti Jakarta saja yang padatnya minta ampun. Bahkan menurut penduduk Jakarta, langit tak pernah biru karena polusi. Cuma biru pas korona saja dulu.

  • Banyak banget berita polusi akhir-akhir ini, semoga Indonesia cepat pulih dari polusi supaya tingkat kesehatan masyarakat meningkat

  • Wah, Surabaya kok sudah tertutup dengan selimut polusi juga…?
    Aku pikir hanya di Jakarta.

    Dan yah, aku baru bisa membedakan setelah beberapa kali merasakan langsung berada di bawah langit yang mendung tapi terik. Suasana dan kualitas udara juga bikin kita dipaksa menghirup kualitas udara yang buruk.

  • Sangat signifikan ya ka suasana pedesaan dan di kota hiruk pikuk…soal kendaraan motor rasanya sudah mendarah daging sampai ke tingkat remaja anal sekolah. Karena minimnya transportasi masuk ke pelosok jalan, ditambah gaya hidup mager semakin memuncak…hmm makin maraklah beli pentol di gang depan naik motor😀