Selepas kuliah di tahun 2019, saya pernah melakoni hidup sebagai pengangguran terdidik. Kurang lebih enam bulan lamanya. Selama itu pula saya berjuang mengintip lowongan kerja ke sana kemari. Berharap seecepatnya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Apapun kerjanya, selagi itu halal, akan saya kerjakan.

Saban hari, saya aktif memantau info loker yang diposting di sosial media. Bila menemukan kualifikasi yang cocok, saya tak sungkan untuk mengirimkan email lamaran ke pihak perusahaan. Sayangnya, hasilnya selalu nihil. Sampai pada titik tertentu, saya akhirnya percaya bahwa modal ijazah saja tidak cukup. Butuh “orang dalam” biar bisa memuluskan langkah untuk diterima kerja.

Sebagai generasi milenial yang akrab dengan sosial media, seringkali saya menjumpai informasi di ruang virtual terkait dengan jurus cepat kaya. Beragam bisnis online berlomba-lomba memasang iklan di sosial media untuk menarik minat para calon pebisnis milenial. Saya pun pernah terjebak di dalamnya. Mencoba peruntungan di bisnis MLM yang menjual produk-produk herbal.

Beruntungnya, dalam bisnis model yang ditawarkan MLM tersebut, para membernya diberi pelatihan virtual mengenai bisnis online. Ada semacam kursus yang ditawarkan di sana. Dari sinilah saya akhirnya belajar sedikit-sedikit mengenai facebook ads. Menarik juga ternyata belajar tentangnya. Sayangnya, cuan yang dijanjikan pihak MLM saat awal bergabung tak kunjung saya dapat. Baca kisah saya lainnya di sini!

Terjun Bebas ke Dunia Freelance

Untuk dapat bertahan hidup tentu semua kita  butuh makan. Sebagai anak rantau, saya paham betul bahwa untuk mendapatkan sesuap nasi, saya harus bekerja. Tidak ada yang bisa saya andalakan di sini selain diri saya sendiri. Ya, saya harus bekerja.

Berbekalkan ilmu digital marketing yang saya dapat dari MLM sebelumnya, saya lalu memberanikan diri berjualan sesuatu lewat marketplace sosial media. Pilihan pertama saya waktu itu adalah menjual waring. Seingatku, modal waktu itu cukup buat beli beberapa meter waring saja. Selebihnya adalah niat dan tekad.

Ternyata, usai memajangkan dagangan di marketplace dan membagikannya di group jual beli online, ada juga costumer yang tanya-tanya. Dan syukurnya, hari itu juga terjadi transaksi. Dari situ, saya mulai belajar, ternyata berdagang di sosial media itu asyik juga. Menantang sekaligus menyenangkan.

Kurang lebih dua bulan lamanya saya berdagang waring secara virtual dari marketplace. Keuntungan yang didapat lumayan buat makan sehari-hari. Sayangnya, permintaan akan barang ini tidaklah banyak sehingga sepi pelanggan.

Dari waring, saya lalu memberanikan diri membuka jasa pembuatan skripsi. Ya, benar, saya menjadi joki penulisan proposal skripsi. Saat itu belum ada artificial inteligence (AI) yang bisa membantu mempercepat pengerjaannya. Semuanya dilakukan sendiri. Baca kisah lainnya di sini!

Kendati suka dengan dunia tulis menulis, ternyata membuka jasa layanan yang satu ini tergolong sulit untuk saya yang masih pemula. Waktu itu memang ada beberapa klien yang mempercayakan saya untuk mengerjakan proposal dan skripsinya.

Singatku ada dua klien dari jurusan ilmu komunikasi, satunya lagi dari teknik pertanian dan yang lainnya saya lupa. Bayangkan, saya yang adalah alumni ilmu filsafat dipaksa harus mengerjakan proposal dari teknik pertanian. Berat, bro. Berat sekali, malah. Tapi ya, demi cuan, sesulit apapun itu tetap harus dikerjakan.

Waktu terus berputar dan hidup harus tetap berlanjut. Sebagai anak rantau, mental harus tetap kuat menghadapi kenyataan pahit yang ditemui hampir tiap hari. Ada-ada saja masalahnya. Beras habis, minyak tanah di kompor kering, token listrik habis, belum lagi uang kos telat bayar, lengkap sudah penderitaan ini. Bersambung……………..

Bagikan:

Baldussae

Ghost writer. Blogger. Jurnalis Lepas Anak kampung yang ingin ingin hidup abadi di kolong langit. Lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur. Nioromu.com ini merupakan kebun virtual yang digarap setiap hari untuk menyambung hidup di tanah rantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *