Semalam, saya turut menyaksikan debat perdana para calon presiden. Pastinya secara virtual goblok! Mana ada orang-orang seperti saya di republik ini punya akses untuk nonton langsung di kantor KPU RI. Kan mustahil. Lagian, KPU tidak punya kepentingan untuk mengundang saya ke sana menyaksikan para calon pemimpin negeri ini beradu gagasan.

Sekilas pengamatan saya, dalam ajang debat perdana ini ada dua hal yang penting dan menarik untuk saya. Pertama, pernyataan Ganjar Pranowo, Capres nomor urut 3 tentang penyediaan lapangan kerja. Kedua, dari Anies Baswedan tentang “ordal” alias orang dalam.

Menjawab pertanyaan Prabowo tentang banyaknya lulusan sekolah dan univeritas yang menganggur, mantan Gubernur Jawa Tengah itu mengemukakan beberapa poin. Di antaranya, membuka ruang investasi yang cukup besar, memastikan penegakkan hukum berjalan dengan baik dan menyiapkan SDM unggul untuk menjemput penyediaan lapangan kerja oleh pihak investor.

Di segmen lain, Anies Baswedan menyindir Prabowo soal putusan MK terkait penetapan usia capres-cawapres yang memungkinkan Gibran, sulungnya Presiden Joko Widodo maju sebagai kontestan dalam pemilu kali ini. Menurut Anies, ada indikasi “ordal” alias orang dalam yang turut mempengaruhi keputusan Mahkamah Konstitusi soal ini.

“Fenomena ordal ini menyebalkan. Di seluruh Indonesia kita menghadapi fenomena ordal”, demikian menurut Anies Baswedan.

Sebagai pemilih milenial, saya menikmati betul sajian debat kali ini. Menyimak aneka gagasan yang ditawarkan dari masing-masing calon. Sambil sesekali tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kocaknya seorang Prabowo Subianto di panggung debat. Menggemaskan memang, Prabowo dan goyangan gemoy malam itu.

Tentang debat pilpres, cukup sampai di sini dulu. Saya tidak ingin membahasnya lebih jauh. Bukan pengamat politik, soalnya. Tapi tunggu, di tulisan saya sebelumnya, saya sudah menyinggung sedikit soal orang dalam kan? Ya, keberadaan orang dalam diperlukan untuk memuluskan kita bisa diterima kerja.

Balik lagi ke debat tadi, sebetulnya Pak Anies lupa bahwa ada satu jenis pekerjaan yang sebetulnya tidak butuh orang dalam. Freelance. Iya, anda tidak salah baca. Dunia freelance tidak membutuhkan perantara orang dalam. Di era digital saat ini, peluang terbuka buat semua. Intinya tekun, mau belajar dan konsisten melakukannya.

Ngomong-ngomong, ini tulisan arahnya kemana ya? Bangsat, saya jadi bingung mau bahas apa. Kalau tidak salah, di part sebelumnya, tulisan saya membahas soal bagaimana terjebak dan terjun bebas di dunia freelance kan? Izinkan saya melanjutkan kisah yang sempat terpotong ini.

Baca part sebelumnya di sini.

Terjun Bebas ke Dunia Freelance

Menjadi joki proposal skripsi sebetulnya pekerjaan yang berat. Hasil jokianmu belum tentu hoki di mata dosen pembimbing. Bakal ada revisi berkali-kali sebelum klien naik sidang. Biasanya, pelunasan baru akan terjadi kalau klien sudah dapat ACC dari dosen pembimbingnya. Berat, bro. Itu makanya saya memilih “berhenti” menekuni profesi terlarang ini.

Untuk menegaskan eksistensi saya sebagai pekerja freelance, saya lalu beralih profesi menjadi blogger. Kerjanya ya, buat tulisan untuk blog. Seingatku, blog awal yang saya buat waktu itu berjenis kelamin blogspot. Gratisan dari google. Tampilannya sederhana. Tidak masalah, buat ruang belajar kan.

Menjadi blogger, kedengarannya keren. Tapi jangan salah, cuannya nol. Lagian masih pemula, mana paham soal dunia perblogeran. Nekad dan pantang menyerah untuk terus belajar, menjadi pelecut untuk terus maju adalah kunci. Belajar dari setiap kegagalan yang dialami.

Kalau tidak salah, ini sedang mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik bersama rekan-rekan jurnalis warga kota Surabaya yang diselenggarakan oleh SIEJ.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai memberanikan diri untuk ikut nimbrung dalam kompetisi menulis alias blog competition. Percobaan pertama, kedua, ketiga dan bahkan hingga yang kesekian, selalu saja gagal. Ada juga yang nyaris jakpot.

Di saat saya hampir menyerah, saya teringat akan satu nasihat klasik. Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan. Ya, kemenangan yang sesungguhnya hanya bisa dirasakan oleh pemain, bukan penonton. Itu makanya saya lebih memilih menjadi pemain, kendati harus menemui kekalahan berulang kali.

Ternyata benar, di kompetisi yang kesekian kalinya, saya berhasil keluar sebagai juara, walau bukan di posisi satu. Memenangkan kompetisi menulis blog untuk pertama kalinya, itu rasanya seperti belah duren di malam hari. Membahagiakan, tentunya.

Kemenangan perdana ini akhirnya menjadi vitamin bagi saya untuk terus memantapkan diri di dunia freelance dengan menjadi seorang blogger. Seingatku, sudah beberapa kali saya memenangkan lomba blog dengan hadiah yang hampir setara UMR DKI Jakarta. Sombong sedikit, boleh kan?

Ya, menjadi pekerja freelance sebenarnya gampang-gampang susah. Intinya satu, harus berani memulai. Berani meninggalkan zona nyaman. Berani menantang diri untuk berjuang lebih. Ingat, tidak ada ordal di sini. Selagi mau dan mampu, kita bisa mendapatkan pekerjaan di dunia freelance.

Tapi, omong-omong soal debat pilpres tadi, saya teringat akan Prabowo dan goyangan gemoynya di atas panggung tadi. Menarik kan? Izin pamit ngopi dulu ya. Kisah tentang dunia prefreelancean akan saya lanjutkan esok. Sampai jumpa.

Bagikan:

Baldussae

Ghost writer. Blogger. Jurnalis Lepas Anak kampung yang ingin ingin hidup abadi di kolong langit. Lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur. Nioromu.com ini merupakan kebun virtual yang digarap setiap hari untuk menyambung hidup di tanah rantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *