Sejak pertama kali menginjakan kaki di kota ini, Surabaya kini telah menjadi bagian dari cerita perjalanan hidupku. Surabaya perlahan menghidupi mimpi yang sempat terkubur. Menegaskan harap untuk terus melangkah.

Keputusan untuk mengadu nasib di kota pahlawan ini bukan tanpa alasan. Selain karena peluang kerja yang terbuka lebar, Surabaya bagiku adalah kota tualang intelektual yang wajib disinggahi. Surabaya memberi lebih dari sekedar yang saya pikirkan.

Namun demikian, cerita tentang kota pahlawan ini tidak melulu indah. Ada juga aneka persoalan bak benang kusut yang sulit terurai sedari dulu. Tidak percaya? Sesekali susurlah sungai atau pemukiman kumuh warga. Jawabannya terpampang nyata di sana. Temukan rekomendasi hotel di Surabaya di sini.

Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya menyimpan segudang masalah terkait lingkungan yang telah lama menjadi sorotan utama. Peningkatan populasi dan kepadatan bangunan, sampah, sanitasi kota, serta kualitas air yang semakin merosot adalah masalahnya.

Peningkatan Populasi dan Kepadatan Bangunan

Berdasarkan Proyeksi Penduduk pada tahun 2023, penduduk di ujung timur pulau jawa ini berjumlah 2.997.547 jiwa. Angka ini diprediksi terus naik di tahun 2024 menjadi 3.021.043 jiwa. Jika diukur dari tingkat kepadatan penduduknya maka setiap km2 di kota ini dihuni oleh 8.595 jiwa.

Foto udara kota surabaya
Foto udara Kota Surabaya (Sumber: Antara Foto)

Pertumbuhan populasi yang cepat dan urbanisasi telah mengakibatkan peningkatan signifikan dalam kepadatan penduduk dan bangunan di Surabaya. Akibatnya, daerah perkotaan menghadapi tekanan besar dalam hal penggunaan lahan yang efisien dan pembangunan berkelanjutan.

Soal kepadatan populasi ini, hemat saya, alat ukur paling sederhananya adalah kemacetan di jalan raya. Sesekali berkendaralah di jam-jam macet, baik pagi maupun sore hari. Terlihat betul hilir mudik kendaraan dan orang yang melintasi jalanan di kota ini.

Masalah Persampahan yang Kompleks

Sama seperti daerah lainnya di indonesia, sampah telah menjadi persoalan serius yang perlu diperhatikan. Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, tercatat sekitar 1.600 ton per hari yang masuk. Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, 60 persen sampah tersebut didominasi oleh sampah organik.

Persampahan telah menjadi permasalahan yang kompleks di Surabaya. Pengelolaan sampah yang tidak efisien, minimnya pemilahan sampah, serta minimnya fasilitas daur ulang menjadi faktor utama yang memperparah situasi ini.

Langkah-langkah seperti kampanye edukasi, peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah, dan promosi gaya hidup berkelanjutan perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah ini.

Tantangan Sanitasi yang Meningkat

Perkembangan perkotaan yang cepat juga mengakibatkan tantangan sanitasi yang semakin meningkat. Meskipun beberapa langkah telah diambil untuk meningkatkan akses ke fasilitas sanitasi dasar, masih ada sebagian besar penduduk perkotaan yang tidak memiliki akses yang memadai.

Mengutip data dari jatimprov.go.id, soal sanitasi di surabaya, lebih dari 50 persen masuk dalam kategori kurang sehat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya peningkatkan akses dan kualitas fasilitas sanitasi, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sanitasi yang baik.

Kualitas Air yang Terancam

Kualitas air di Surabaya juga menjadi perhatian serius. Pertumbuhan industri dan aktivitas perkotaan yang padat telah berdampak negatif pada kualitas air. Air sungai yang terkontaminasi limbah industri dan domestik mengancam keberlangsungan ekosistem air dan kesehatan masyarakat.

Data dari Badan Lingkungan Hidup Surabaya menunjukkan bahwa beberapa parameter kualitas air di beberapa sungai kota telah melampaui ambang batas yang aman.

Dalam menghadapi tantangan lingkungan perkotaan yang kompleks ini, pemerintah dan masyarakat Surabaya perlu bekerja sama untuk mencari solusi berkelanjutan. Diperlukan upaya serius untuk mengelola pertumbuhan populasi, meningkatkan manajemen persampahan, memperbaiki fasilitas sanitasi, serta menjaga kualitas air.

Langkah-langkah seperti pengembangan sistem transportasi berkelanjutan, kampanye sadar lingkungan, serta peningkatan regulasi lingkungan akan menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan antara pertumbuhan perkotaan dan pelestarian lingkungan.

Bagikan:

Baldussae

Ghost writer. Blogger. Jurnalis Lepas Anak kampung yang ingin ingin hidup abadi di kolong langit. Lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur. Nioromu.com ini merupakan kebun virtual yang digarap setiap hari untuk menyambung hidup di tanah rantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *